One of These Night
Pada malam yang pilu dan ditemani sepi yang
menderu membuatku sekali lagi berpikir untuk apa aku berada di sini, di tempat
ini. Bukannya aku tak sadar diri atau tak peka dengan segala tuturnya. Hanya
sekali lagi saja, aku berpikir untuk menyelami keberadaanku di sini.Aku percaya bahwa keputusannya adalah untuk
kebaikanku juga. Aku percaya bahwa nantinya tak akan ada suatu pun yang
sia-sia. Ya, selagi mau berusaha. Tapi bagaimana dengan hati yang tak siap?
Bahkan tak tulus? Atau parahnya tak tau apa yang sedang dilakukan oleh tubuhnya
ini? Semua bahkan terlalu bergemuruh di dalam tempurung kepala ini. Semua
pertanyaan menuntut sebuah jawaban yang bahkan aku sendiri belum yakin akannya.
Bukan. Ini bukan pertanyaan dari orang yang kali
pertama merantau nan jauh ke kota orang. Bukan juga orang yang baru pertama
mengadah ilmu di imperium seberang. Justru pertanyaan ini semakin lama
berkecamuk di benak orang yang menjalani hubungan jarak jauh dengan kampung
halaman.
Hakikat keberadaannya yang kadang terbesit, minta
direnungkan. Sudahkah mendapat jawaban? Belum. Ini proses. Begitu melulu
jawabnya.
Hati yang tak siap atau hati yang tak kunjung kau
siapkan? Ah iya, memang aku saja yang tak pernah bersiap-siap. Kata-kata tidak
di sini sama sekali tak mencerminkan suatu kebimbangan, malah dengan jelas
mengatakan bahwa ia tidak melakukan satu dua hal untuk menyiapkannya. Pikirkan
dan lakukan untuk mengendarai hati itu.
Melakukan sesuatu sesuai dengan jati diri dan
kemampuan kita membuat kita mengerti nikmatnya perasaan ikhlas yang mengalir di
hati. Rasa itu akan membangun lebih dan lebih banyak sisi positif yang
sejatinya telah membibit di dalam diri kita. Kita sadar. Ah ini dia. Ini yang
seharusnya aku lakukan sedari dulu. Tidak hanya menjadi diri kita sendiri, tapi
bagaimana pun itu harus bisa menjadi diri terbaik kita.Tak lagi sepi dan pilu, terima kasih untuk obrolan
penuh makna malam ini.
 |
| Saranghajaaa |
Terharu :(
BalasHapus