Minggu, 26 Maret 2017

One of These Night

Pada malam yang pilu dan ditemani sepi yang menderu membuatku sekali lagi berpikir untuk apa aku berada di sini, di tempat ini. Bukannya aku tak sadar diri atau tak peka dengan segala tuturnya. Hanya sekali lagi saja, aku berpikir untuk menyelami keberadaanku di sini.Aku percaya bahwa keputusannya adalah untuk kebaikanku juga. Aku percaya bahwa nantinya tak akan ada suatu pun yang sia-sia. Ya, selagi mau berusaha. Tapi bagaimana dengan hati yang tak siap? Bahkan tak tulus? Atau parahnya tak tau apa yang sedang dilakukan oleh tubuhnya ini? Semua bahkan terlalu bergemuruh di dalam tempurung kepala ini. Semua pertanyaan menuntut sebuah jawaban yang bahkan aku sendiri belum yakin akannya.
Bukan. Ini bukan pertanyaan dari orang yang kali pertama merantau nan jauh ke kota orang. Bukan juga orang yang baru pertama mengadah ilmu di imperium seberang. Justru pertanyaan ini semakin lama berkecamuk di benak orang yang menjalani hubungan jarak jauh dengan kampung halaman.
Hakikat keberadaannya yang kadang terbesit, minta direnungkan. Sudahkah mendapat jawaban? Belum. Ini proses. Begitu melulu jawabnya.
Hati yang tak siap atau hati yang tak kunjung kau siapkan? Ah iya, memang aku saja yang tak pernah bersiap-siap. Kata-kata tidak di sini sama sekali tak mencerminkan suatu kebimbangan, malah dengan jelas mengatakan bahwa ia tidak melakukan satu dua hal untuk menyiapkannya. Pikirkan dan lakukan untuk mengendarai hati itu.
Melakukan sesuatu sesuai dengan jati diri dan kemampuan kita membuat kita mengerti nikmatnya perasaan ikhlas yang mengalir di hati. Rasa itu akan membangun lebih dan lebih banyak sisi positif yang sejatinya telah membibit di dalam diri kita. Kita sadar. Ah ini dia. Ini yang seharusnya aku lakukan sedari dulu. Tidak hanya menjadi diri kita sendiri, tapi bagaimana pun itu harus bisa menjadi diri terbaik kita.Tak lagi sepi dan pilu, terima kasih untuk obrolan penuh makna malam ini.


Saranghajaaa

1 komentar: